Selasa, 06 Desember 2011



M A K A L A H
‘AARIYAH
Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fiqh Muamalah 2

 

Oleh :

                 M. Ridwan                 (C04209087)
                 Atikah                        (C74209110)

Dosen Pengampu :
Dr. H. Abu Azam Al-Hadi, M. Ag.

Prodi : Ekonomi Syariah (D)

Fakultas Syariah
Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya
2011
BAB I
PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang
Kegiatan ekonomi yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari bahkan tanpa kita sadari, pinjam-meminjam sering kita lakukan. ‘Aariyah adalah suatu pekerjaan yang tergolong disunahkan oleh Islam (QS, 5:2).[1] Berbicara mengenai pinjaman (‘Aariyah), maka perlu kita bahas mengenai
dasar hukum ‘Aariyah.
Apa sebenarnya ‘Aariyah itu? Bagaimana dasar hukum serta rukun dan syarat ‘Aariyah? Untuk itu kita perlu mengetahui bagaimana pengembalian yang sesuai dengan syara’. Agar kita bisa menerapkan dalam kehidupan nyata.
Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memberi pengetahuan kepada pembaca umumnya dan kami khususnya tentang hal-hal yang berkaitan dengan ‘Aariyah dan hukumnya, sehingga kita dapat mengaplikasikanya dalam kegiatan kita sehari-hari.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Apakah yang dimaksud dengan ‘Aariyah?
  2. Bagaimanakah dasar hukum ‘Aariyah?
  3. Bagaimanakah rukun dan syarat ‘Aariyah?
  4. Bagaimanakah hukum dan sifat ‘Aariyah?
  5. Apakah perbedaan ‘Aariyah dengan Qaradh?
  6. Bagaimanakah aplikasi ‘Aariyah dalam lembaga keuangan syariah?


1.3  Tujuan Penulisan
Dalam makalah ini, penyusun bertujuan agar pembaca dapat mengetahui sega sesuatu yang berkaitan dengan ‘Aariyah.

1.4  Sistematika Penulisan
Halaman Judul     
Kata Pengantar    
Daftar Isi  

BAB I       Pendahuluan  
Latar Belakang Masalah        
Rumusan Masalah      
Tujuan Penulisan        
Sistematika Pembahasan
           
BAB II      Pembahasan   
a.             Pengertian      
b.            Dasar Hukum 
c.             Rukun dan Syarat      
d.            Hukum dan Sifat       
e.             Perbedaan dengan Qaradh     
f.             Aplikasi ‘Aariyah dalam Lembaga Keuangan Syariah          

BAB III    Penutup          
a.             Kesimpulan    
b.            Saran  

Daftar Pustaka     


BAB II
PEMBAHASAN



2.1  Pengertian ‘Aariyah
Aariyah menurut etimologi diambil dari kata ‘Aara yang berarti datang dan pergi. Menurut sebagian pendapat ‘Aariyah berasal dari kata at-Ta’aawuru, yang berarti saling menukar dan mengganti, yakni dalam tradisi pinjam meminjam.[2]
Menurut terminologi syara’ ulama fiqh berbeda pendapat dalam mendefinisikannya, antara lain :
  1. Menurut Syarkhasyi dan ulama Malikiyah, ‘Aariyah adalah “Pemilikan atas manfaat suatu benda tanpa pengganti”.[3]
  2. Menurut Syafi’iyah dan Hambaliyah, ‘Aariyah adalah “Pembolehan untuk mengambil manfaat tanpa mengganti”[4]
Secara operasional, ‘Aariyah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang yang bisa memanfaatkannya hingga waktu tertentu kemudian dikembalikan kepada pemiliknya.[5] Contohnya, si A meminjam buku untuk dibaca kepada si B.
  
2.2  Landasan Hukum
‘Aariyah dianjurkan dalam Islam. Hal tersebut didasarkan pada :
  1. Al-Qur’an
QS. Al-Maidah:2, “Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa”.[6]

  1. As-Sunnah
Dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Anas, dinyatakan bahwa Rasulullah SAW. telah meminjam kuda dari Abu Thalhah, kemudian beliau mengendarainya.[7]
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang jayyid dari Shafwan Ibn Umayyah, dinyatakan bahwa Rasulullah SAW. pernah meminjam perisai dari Shafwan Ibn Umayyah pada waktu perang Hunain. Shafwan bertanya, “Apakah engkau merampasnya, ya, Muhmmad?” Nabi menjawab, “Cuma meminjam dan aku bertanggung-jawab.”
Dan hukum ‘Aariyah menurut QS. Al-Maidah:2 adalah Sunnah.[8]

2.3  Rukun dan Syarat
  1. Rukun ‘Aariyah
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa rukun ‘Aariyah hanyalah Ijab dari yang meminjamkan barang , sedangkan Qabul bukan merupakan rukun ‘Aariyah.
Menurut Ulama Syafi’iyah, dalam ‘Aariyah disyaratkan adanya lafadz shighat akad, yakni ucapan ijab qabul dari peminjam dan yang meminjamkan barang pada waktu transaksi, sebab memanfaatkan milik barang tergantung pada adanya izin.
Secara umum, jumhur ulama fiqih menyatakkan bahwa rukun ‘Aariyah ada empat, yaitu :
1.      Mu’ir (peminjam)
2.      Musta’ir (yang meminjamkan)
3.      Mu’ar (barang yang dipinjamkan)
4.      Shighat (sesuatu yang menujukkan kebolehan untuk mengambil manfaat, baik dengan ucapan maupun perbuatan)[9]


  1. Syarat
Ulama fiqih mensyaratkan dalam akad ‘Aariyah sebagai berikut :
1.      Mu’ir berakal sehat, ‘Aariyah tidak akan sah jika dilakukan oleh orang  gila dan anak kecil yang tidak berakal.
2.      Orang yang meminjam harus orang yang berakal dan dapat (cakap) bertindak atas nama hukum karena orang tidak berakal, tidak dapat memegang amanat. Oleh sebab itu anak kecil, orang gila, dungu, tidak boleh mengadakan akad ‘ariyah’[10]
3.      Pemegangan barang oleh peminjam
‘Aariyah adalah transaksi dalam berbuat kebaikan, yang dianggap sah memegang barang adalah peminjam.[11]
4.      Harus ada serah terima dari musta’ir karena akad ‘Aariyah merupakan akad tabarru’, maka akad dinyatakan tidak sah tanpa adanya serah terima.
5.      Musta’ar harus milik sendiri. Bisa dimanfaatkan tanpa harus merusak bentuk fisik yang ada.[12] Bukan barang yang apabila dimanfaatkan habis, seperti makanan dan minuman.[13]
Ulama fiqh menetapkan bahwa akad ‘Aariyah diperbolehkan atas barang-barang  yang bisa dimanfaaatkan tanpa harus merusak dzat atau barang yang digunakan seperti rumah, pakaian, kendaraan, dan barang lain yang sejenis.[14]
Diharamkan meminjamkan senjata dan kuda kepada musuh. Diharamkan meminjamkan Al-Qur’an atau yang berkaitan dengan Al-Qur’an kepada orang kafir. Diharamkan juga meminjamkan alat berburu kepada orang yang sedang ihram.[15]
Pinjam-meminjam berakhir apabila barang yang dipinjam telah diambil manfaatnya dan harus segera dikembalikan kepada yang memilikinya. Pinjam-meminjam juga berakhir apabila salah satu dari kedua pihak meninggal dunia atau gila. Barang yang dipinjam dapat diminta kembali sewaktu-waktu, karena pinjam-meinjam bukan merupakan perjanjian yang tetap.
Jika terjadi perselisihan pendapat antara yang meminjamkan dan yang meminjam barang tentang barang itu sudah dikembalikan atau belum, maka yang dibenarkan adalah yang meminjam dikuatkan dengan sumpah. Hal ini didasarkan pada hukum asalnya, yaitu belum dikembalikan.[16]

2.4  Hukum dan Sifat
2.4.1. Dasar Hukum Ariyah
Menurut urf, ariyah diartikan dengan dua cara, yaitu secara hakikat dan secara majaz.
a. Secara Hakikat
Ariyah adalah meminjamkan barang yang dapat diambil manfaatnya tanpa merusak zatnya. Menurut Malikiyah dan Hanafiyah, hukumnya adalah manfaat bagi peminjam tanpa ada pengganti apapun, atau peminjam memiliki sesuatu yang semakna dengan manfaat menurut kebiasaan.
Al Kurkhi, ulama Syafi'iyyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ariyah adalah kebolehan untuk mengambil manfaat dari suatu benda.

b. Secara Majaz
Ariyah secara majazi adalah pinjam meminjam benda-benda yang berkaitan dengan takaran, timbangan, hitungan, dan lain-lain, seperti telur, uang, dan segala benda yang dapat diambil manfaatnya, tanpa merusak zatnya.
Dengan demikian, walaupun termasuk ariyah, tetapi merupakan ariyah secara majazi, sebab tidak mungkin dapat dimanfaatkan tanpa merusaknya. Oleh karena itu, sama saja antara memiliki kemanfaatan dan kebolehan untuk memanfaatkannya.

2.4.2  Hak Memanfaatkan Barang Pinjaman (Musta'ar)
Jumhur ulama selain Hanafiyah berpendapat bahwa musta'ar dapat mengambil manfaat barang sesuai dengan izin mu'ir (orang yang memberi pinjaman).
Adapun ulama Hanafiyah berpendapat bahwa kewenangan yang dimiliki musta'ar bergantung pada jenis pinjaman, apakah mu'ir meminjamkannya secara mutlak atau secara terikat (muqayyad).
a. Ariyah mutlak
Ariyah mutlak yaitu, pinjam meminjam barang yang dalam akadnya (transaksi) tidak dijelaskan persyaratan apapun, seperti apakah pemanfaatannya hanya untuk peminjam saja atau dibolehkan orang lain, atau tidak dijelaskan cara penggunaannya.
b. Ariyah muqayyad
Ariyah muqayyad adalah meminjamkan suatu barang yang dibatasi dari segi waktu dan kemanfaatannya, baik disyaratkan pada keduanya maupun salah satunya. Hukumnya, peminjam harus sedapat mungkin untuk menjaga batasan tersebut, akan tetapi dibolehkan untuk melanggar batasan tersebut apabila kesulitan dalam memanfaatkannya.
1. Batasan penggunaan ariyah oleh diri peminjam
2. Pembatasan waktu dan tempat
3. Pembatassan ukuran berat dan jenis

Dalam ‘Aariyah, hukumnya bisa menjadi wajib, misalnya bagi muslim yang terpaksa harus meminjam sesuatu yang amat dibutuhkan kepada saudara seagamanya yang tidak membutuhkannya.
Diantara hukum-hukum ‘Aariyah adalah sebagai berikut :
1.      Sesuatu yang dipinjamkan harus sesuatu yang mubah. QS. Al-Maidah:2, “Dan janganlah kalian tolong menolong pada perbuatan dosa dan permusuhan (pelanggaran)”.
2.      Jika mu’ir mensyaratkan bahwa musta’ir berkewajiban mengganti barang yang dipinjam jika ia merusaknya, maka musta’ir wajib menggantinya, karena Rasul SAW bersabda, “Kaum muslimin itu berdasarkan syarat-syarat mereka”. (HR.Abu Dawud dan Al-Hakim)

Sifat ‘Aariyah :
1.  Musta’ir harus menanggung biaya pengangkutan barang pinjaman ketika ia mengembalikannya kepada mu’ir jika barang pinjaman tersebut tidak bisa diangkut, kecuali oleh kuli pengangkut, atau dengan taksi.
2.      Musta’ir tidak boleh menyewakan barang yang dipinjamnya. Adapun meminjamkannya pada orang lain, maka tidak apa-apa jika mu’ir mengizinkan.
3.      Musta’ir merawat barang pinjaman dengan baik. Rasulullah SAW bersabda : "Kewajiban meminjam merawat yang dipinjamnya, sehingga ia kembalikan barang itu". (HR. Ahmad)[17]
4.      Jika seseorang meminjam kebun untuk dibuat tembok, ia tidak boleh meminta pengembalian kebun tersebut hingga temboknya roboh. Begitu juga orang yang meminjamkan sawah untuk ditanami, ia tidak boleh meminta pengembangan sawah tersebut hingga tanaman yang ada di atasnya telah dipanen, karena menibulkan madlarat kepada sesama muslim itu haram.
5.      Barangsiapa meminjamkan sesuatu hingga waktu tertentu, ia disunnahkan tidak meminta pengembaliannya kecuali setelah habisnya batas waktu peminjaman.[18]

2.5  Perbedaan dengan Qaradh
Qardh secara etimologis adalah potongan. Secara istilah bisa diterjemahkan sebagai pinjaman uang. Sedangkan pinjaman barang dalam bahasa fikih biasanya disebut ’ariyah.[19] Perbedaan lain antara ’Aariyah dengan Qardh adalah pada objeknya. Jika ’Aariyah adalah antara barang yang dipinjam kemudian dikembalikan adalah barang yang harus sama wujudnya. Sedangkan Qaradh, pengembalian barang pinjaman tidak harus barang yang sama wujudnya, akan tetapi memiliki nilai yang sama. Misalnya dalam hal peminjaman uang.

2.6  Aplikasi ‘Ariyah dalam Lembaga Keuangan Syariah
Aplikasi ‘Aariyah dalam lembaga keuangan syariah dinamakan ‘Aariyah atau I’aarah. Pada dasarnya, aplikasi ini berjalan di atas akad al-ashliyah (tanpa ada paksaan seperti bai’), dan pastinya tanpa bunga. Namun pada kenyataannya, meski bank tersebut berlabel syariah, namun bank masih belum dapat melaksanakan ‘Aariyah secara murni syariah. Bank syariah masih menggunakan sistem bunga namun menggunakan istilah yang berbeda.


BAB III
PENUTUP



3.1 Kesimpulan
‘Aariyah adalah memberikan manfaat suatu barang kepada orang lain agar diambil manfaatnya tanpa mengurangi kondisi fisik barang tersebut.
Pada dasarnya, hokum ‘Aariyah adalah mubah, dan menurut QS. Al-Ma’idah:2 adalah Sunnah, dan akan menjadi wajib apabila musta’ir benar-benar membutuhkan ketika mu’ir sedang tidak membutuhkannya.
Syarat dan rukunnya antara lain : Mu’ir dan mustair harus berakal, musta’ar adalah benda yang tidak akan berkurang kondisi fisiknya, ijab dan Qabul.
Apabia terjadi sesuatu terhadap musta’ar ketika ia berada di tangan musta’ir, maka tanggung jawab sepenuhnya atas barang tersebut adalah kewajiban musta’ir.
Dalam lembaga keuangan syari’ah, ‘Aariyah belum bisa berjalan secara murni, karena masih menggunakan sistem bunga namun dengan istilah yang berbeda.

3.2 Saran
Sebagai ummat yang memegang prinsip syariah, maka hendaklah kita berusaha untuk melaksanakan syariah tersebut ke dalam semua aspek kehidupan. Terutama muamalah yang selama ini kegiatan yang ada masih saja berkiblat pada ajaran-ajaran orang-orang sosialis.





DAFTAR PUSTAKA



Nawawi, Ismail. 2009. Fiqh Muamalah. Surabaya :  Vira Jaya Multi Press
Syafei, Rahmat. 2001. Fiqih Muamalah. Bandung : Pustaka Setia
http://alponti.multiply.com/journal/item/22
http://www.canboyz.co.cc/2010/03/makalah-ariyah-dan-pengertiannya.html http://hndwibowo.blogspot.com/2008/06/ariyah.html
http://ridwan202.wordpress.com/istilah-agama/ariyah/
http://tarbiyatulmujahidin.comze.com/html/2%20FIQIH%20muamalat%207%20ariyah.htm



[1] http://ridwan202.wordpress.com/istilah-agama/ariyah/
[2] Rachmat Syafei, 2001, Fiqih Muamalah, Bandung : Pustaka Setia. Hlm.139
[3] http://hndwibowo.blogspot.com/2008/06/ariyah.html
[4] Op. Cit., Hlm.139-140
[5] Ismail Nawawi, 2009, Fiqh Muamalah, Surabaya : Vira Jaya Multi Press. Hlm. 100
[6] Rahmat Syafei, Op. Cit., Hlm. 140
[7] Ibid.
[8] Ismail Nawawi, Op. Cit., Hlm. 103
[9] Syafei, Op. Cit., Hlm. 141
[10] http://www.canboyz.co.cc/2010/03/makalah-ariyah-dan-pengertiannya.html
[11] Ibid.
[12] Nawawi, Op. Cit., Hlm. 104
[13] http://www.canboyz.co.cc/2010/03/makalah-ariyah-dan-pengertiannya.html
[14] Ibid.
[15] Syafei, Op. Cit., Hlm. 142
[16] http://tarbiyatulmujahidin.comze.com/html/2%20FIQIH%20muamalat%207%20ariyah.htm
[17] http://tarbiyatulmujahidin.comze.com/html/2%20FIQIH%20muamalat%207%20ariyah.htm
[18] Nawawi, Op. Cit., Hlm.105-106
[19] http://alponti.multiply.com/journal/item/22

Tidak ada komentar:

Posting Komentar